Jika pandangan mata mampu menbunuh, mungkin Ma Roo akan mengirimkannya untuk Jae Hee. Ma Roo menunggu Eun Gi sampai keadaannya stabil, Ma Roo kembali ke kelas ekonomi meninggalkan Jae Hee yang menatapnya heran. Ma Roo berjalan gontai terhuyung-huyung dan seakan mengatur emosinya.
Setelah pesawat mendarat, Jae Hee mengantarkan Eun Gi ke Rumah Sakit.
jae Gil : " Kau lihat itu khan? Jae Hee jadi istri kedua seorang chaebol... " Ma roo terlihat marah, dan meminta Jae Gil untuk tak membahasnya lagi. Namun Jae Gik tetap berceloteh mengenai pendapatnya,bahwa Jae Hee tak setia pada Ma Roo. Awalnya saja Jae Hee menjenguk Ma Roo, namun seiring dengan waktu Jae Hee tak pernah mengunjungi a Roo lagi.
Jae Gil : "Anyway.. mengenai malam intu..aku heran mengapa kau membunuh seseorang? Aku tahu kau bukanlah orang yang sanggup membunuh. Kudengar dari Choco, malam itu kau pergi setelah mendapat telepon dari Jae Hee. Ma Roo tiba2 marah, "Hei..kau ini!! aku bukan sopirmu!!". Jae Gil "ada apa denganmu?? mengapa kau tiba2 marah padaku? baiklah aku ke depan..", Jae Gil baru membuka pintu mobilnya.. eh Kang Ma Roo keluar dari kursi kemudi..
Jae Gil : " hei..Kang Ma Roo mau kemana kau?? kau tahu khan aku tak bisa mengemudi??" *LOL dasar kwangsoo eh Jae Gil
Sambil berjalan di kegelapan malam.. Ma Roo teringat masa kecilnya saat pertama kali bertemu Jae Hee.
Ma Roo kecil sedang mencuci sprei yang terkena ompol choco, sambil mengomeli choco yang asyik makan coklat.
Jae Hee : "Tolong sembunyikan aku.. kumohon..", Jae Hee yang berdarah di sudut bibirnya datang tergopoh-gopoh seakan menghindari sesuatu. Jae Hee kemudian sembunyi dan masuk ke sebuah ruang. Lalu seorang laki-laki datang dan bertanya ke Ma Roo kecil, "apakah kau lihat anak perempuan ke arah sini?". Ma Roo menggeleng kepalanya.
Setelah melihat kondisi yang aman, Ma Roo masuk ke ruangan tempat Jae Hee berada dan mengobati luka Jae Hee.
Ma Roo : " Namaku Ma Roo, Kang Ma Roo. Impianku menjadi di dokter."
Jae Hee : "Aku Jae Hee, Han Jae Hee."
Ma Roo :" Aku tahu.. Kamu anak perempuan paling cantik di desa ini."
Jae Hee melihat Ma Roo dan tersenyum.. itulah pertemuan pertama mereka.
Ma Roo kemudian membayangkan saat kuliah bersama Jae Hee,
Jae ee : "Kau jadi juara semester ini? sedangkan aku khawatir tak lulus.. ahhh mengapa ujian menjadi reporter susah sekali... ahh kudengar ada cucu orang kaya yang naksir berat padamu.. mengapa kau tak tertarik? apakah dia jelek?"
Ma Roo : "Dia cantik."
Jae Hee : "Aishh.. Gadis itu sungguh beruntung bisa menangkapmu.."
Ma Roo : "Bagaimana bila Noona yang menangkapku??"
Jae Hee terkejut namun tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.."Baiklah kalau begitu"
Jae ee : "Kau jadi juara semester ini? sedangkan aku khawatir tak lulus.. ahhh mengapa ujian menjadi reporter susah sekali... ahh kudengar ada cucu orang kaya yang naksir berat padamu.. mengapa kau tak tertarik? apakah dia jelek?"
Ma Roo : "Dia cantik."
Jae Hee : "Aishh.. Gadis itu sungguh beruntung bisa menangkapmu.."
Ma Roo : "Bagaimana bila Noona yang menangkapku??"
Jae Hee terkejut namun tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.."Baiklah kalau begitu"
Kembali ke masa kini... Ma Roo melihat sebuah kios jalanan dan teringat kembali masa-masa indah bersama Jae Hee. Dengan cepat Ma Roo mengembalikan dirinya lepas dari semua memori itu.. "Cukup!!.. semua telah berakhir.. aku bukan Ma Roo yang dulu lagi.."
Joon Ha datang ke RS menengok Eun Gi. Sedangkan Eun Gi sedang duduk makan paha ayam sambil mengecek pekerjaan kantornya. Dia bertanya mengenai penyelamatnya di pesawat, namun setelah mengetahui bahwa identitas penyelamatnya bukan Dokter, dia merasa kecewa dengan ibu tirinya dan penyelamatnya itu, karena dengan begitu dia bisa mati sewaktu-waktu.
Joon Ha datang ke RS menengok Eun Gi. Sedangkan Eun Gi sedang duduk makan paha ayam sambil mengecek pekerjaan kantornya. Dia bertanya mengenai penyelamatnya di pesawat, namun setelah mengetahui bahwa identitas penyelamatnya bukan Dokter, dia merasa kecewa dengan ibu tirinya dan penyelamatnya itu, karena dengan begitu dia bisa mati sewaktu-waktu.
Eun Gi : " Dan kudengar.. dia dan laki-laki itu punya hubungan.."
Kemudian HP Eun Gi berbunyi...
Eun Gi : " Dia mengambil uang 100 juta won... selidiki untuk apa uang itu"
Orang suruhan Eun Gi mengikuti Jae Hee yang sedang menuju rumah Ma Roo dengan membawa parcel buah-buahan dan beberapa hadiah lainnya. Dia berhenti di depan rumah Ma Roo sambil membayangkan masa kecilnya dulu. namun dia tersentak dengan suara ribut2 .
Tampak seorang laki-laki sedang berantem dengan Jae Gil di halaman rumah Ma Roo. Dia menuduh Ma Roo berselingkuh dengan istrinya, dan bersikeras untuk menemui Ma Roo. Jae Gil dengan kalem menjelaskan "tak mungkin Ma Roo berselingkuh dengannya... walopun Ma Roo gigolo tapi Ma Roo punya prinsip." Akhirnya sang wanitapun mengaku bahwa dia hanya menggemari Ma Roo saja dan menyimpan fotonya di HP saja. tapi suaminya tak peduli itu.. Jae Gil "bukan salahnya bila dia memiliki wajah yang tampan kan?"
Perempuan itu bertanya apakah dia bisa memenuhi kualifikasi Ma roo bila dia bercerai? *LOL. Dan akhirnya wanita tersebut meminta cerai ke suaminya..wkwkwk
Jae Hee mendekati Jae Gil.. "Apakah Ma roo penyebab pertengkaran tadi?Apa yang dilakukannya sekarang??". Jae Gil menahan marah melihat Jae Hee bertanya-tanya tentang Ma Roo seperti itu..
Ma Roo sedang di RS menemani Choco check up. Dokter berkata "kondisinya jauh lebih baik daripada sebelumnya." Choco langsung membuka tirai dan berkata ke Ma Roo "Aku masih sakit.. Aku benar-benar masih sakit!!"
Choco : " Oppa!! ini semua gara2 kau!!kau meninggalkanku dan datang kembali!!Kau gila akan Jae Hee unnie hingga kau meninggalkan adikmu yang sedang sekarat dan hampir mati!!Ini semua salahmu bila aku sakit seperti ini!! Jika aku mati,,semua itu karnamu!!"
Choco : Aku lelah setelah berteriak padamu.. gendong aku oppa.."
Sementara itu, Jae Gil menjelaskan mengapa Ma Roo menjadi Gigolo. Ma Roo menjadi gigolo karena terpaksa, dia harus melunasi hutang-hutang ayahnya dan membayar pengobatan Choco. Selain itu karena tidak ada yang mau mempekerjakan seorang mantan narapidana. Alasan Ma oo hidup hanyalah Choco.
Choco : Aku lelah setelah berteriak padamu.. gendong aku oppa.."
Sementara itu, Jae Gil menjelaskan mengapa Ma Roo menjadi Gigolo. Ma Roo menjadi gigolo karena terpaksa, dia harus melunasi hutang-hutang ayahnya dan membayar pengobatan Choco. Selain itu karena tidak ada yang mau mempekerjakan seorang mantan narapidana. Alasan Ma oo hidup hanyalah Choco.
Jae Gil :"Sebenarnya hatinya sudah mati" sambil mendongak ke atas jae Gil menggumam.. "Ah... Mengapa Tuhan begitu tak adil pada Ma Roo". Jae Hee merasa prihatin atas keadaan Ma Roo.
Jae Hee : "Mengapa mereka tetap bertahan disini?"
Jae Gil : "itu semua karnamu.." , Jae Hee heran dan menatap Jae Gil
Jae Gil : "Ma Roo khawatir jika dia pindah, kau akan kesulitan menemukannya. Dia menunggumu tiap hari.." *hua..ma roo forget her and pls come to me..
Sesampainya Ma Roo di rumah, Jae Hee sudah pulang. Ma roo merebahkan Choco yang tertidur. Jae Gil menyerahkan sebuah amplop ke Ma Roo, "beberapa menit yang lalu, Jae Hee kesini. Dia menitipkan ini padamu.. dia bilang dia ingin membayar hutangnya padamu.."
Jeder... Ma Roo bagaikan disambar petir di siang bolong. Ma Roo menyambar amplop itu dan berlari keluar mengejar Jae Hee, namun dia tak bisa menemukannya. Dengan marah, dia meremas amplop berisi cek 100 juta won itu.
Di mobil Jae Hee terngingang-iang kata2 Jae Gil. Dia mengingat peristiwa di hotel malam itu. Ma Roo mengenakan kemejanya ke Jae Hee dan Jae Hee pun memeluk Ma Roo. Jae Hee berjanji akan membayar hutang budi itu seumur hidupnya.
Eun Gi telah berada di halaman rumahnya "menyambut" kedatangan Jae Hee. ulanya Eun Gi berkata-kata manis, meminta Jae Hee untuk memberitahu pihak rumah sakit kalau ia sudah sembuh dan berterima kasih padanya. Berkat Jae Hee, ia dapat selamat saat ia pingsan di pesawat kemarin.
Eun Gi telah berada di halaman rumahnya "menyambut" kedatangan Jae Hee. ulanya Eun Gi berkata-kata manis, meminta Jae Hee untuk memberitahu pihak rumah sakit kalau ia sudah sembuh dan berterima kasih padanya. Berkat Jae Hee, ia dapat selamat saat ia pingsan di pesawat kemarin.
Eun Gi : "Kau menemuinya kan? sesorang yang putus sekolah kedokteran namun punya kemampuan luar biasa dan bahkan menyelamatkanku. Mengapa kau memberikan uang 100 Juta won padanya"
Jae Hee kaget mendengar ucapan
Eun Gi. Tanpa basa-basi Eun Gi mengakui kalau ia memang menyuruh orang untuk
memata-matai Jae Hee pergi sejak minggu pertama ibunya diusir keluar dari rumah
ini, “Aku ingin balas dendam. Aku akan menemukan kelemahanmu dan menendangmu
keluar dari rumah ini, seperti yang dulu kau lakukan pada ibuku,” katanya
geram.Jae Hee tercengang mendengar kata-kata Eun Gi yang baginya terlalu kasar. Dengan muka polos, ia mengatakan kalau ia memberikan uang itu sebagai balas jasa karena telah menyelamatkannya.
Eun Gi tertawa mendengar
kata-kata Jae Hee. “Kau ingin aku mempercayainya? Kau memberinya uang sebagai
balas jasa karena menyelamatkanku? Atau sebagai balas jasa karena membunuhku
seolah ketidaksengajaan di pesawat terbang?”
Maka Jae Hee mengubah taktik dan berkata kalau si penyelamat itu mengetahui kalau Eun Gi dulu pernah memakai narkoba 7 tahun yang lalu saat Eun Gi di Amerika. Pria itu mengancamnya akan membocorkan hal ini pada media sehingga ia harus membayar pria itu.
Eun Gi terdiam mendengar itu semua. Jae Hee memperingatkan Eun Gi, "Seharusnya kau berhati-hati, bila jajaran direksi tahu maka kau tak akan bisa mewarisi perusahaan"
Eun Gi tak dapat membalas kata-kata Jae Hee. Ia memang pernah terlibat narkoba saat itu. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah pacarnya memohon padanya agar Eun Gi mau mengakui kalau narkoba itu adalah miliknya, “Aku akan membantumu jika kau mau membantuku. Bahkan ayahku berkata kalau ia akan membantu menolong perusahaan Tae San yang sekarang sedang dalam masalah.”
Eun Gi menelpon mantannya itu. Sementara sang mantan sedang mendapat tugas dari istrinya untuk menggendong putri mereka.
Eun Gi : "Apakah kau mengingatku?".. "Hari itu aku rela mengambil kesalahanmu bukan karena perusahaan ayahku.. mungkin kau tak percaya.. itu karena aku mencintaimu.."
mantannya terdiam mendengar kata-kata Eun Gi, belum sempat mantannya menjawab, Eun Gi sudah mengumpat "Dasar bajingan" dan menutup telponnya.
Ketika mantannya menelpon kembali, Eun Gi menceburkan HPnya di aquarium.. *Galaxy S3nya sayang..buatku aja..
Sementara itu di tengah hujan di dalam mobil, Maru mendapat telepon dari Jae Gil yang berteriak gembira kalau ia tak akan pulang ke rumah karena suatu urusan. Dan Jae Gil melarang Maru untuk menghubunginya karena ia tak ingin dibebani oleh biaya roaming luar negeri.
Jae Gil : "Apakah kau ingin mengembalikan uang
itu?simpanlah 10% dan kembalikan 90% sisanya,
Karena baginya, uang segitu adalah untuk membeli beberapa tas bermerek.”
Beralih ke rumah Eun Gi yang sedang dinner bersama dua pengacaranya. Ayahnya Eun Gi menyelesaikan makan malam terlebih dahulu dan mengajak Pengacara Ahn untuk masuk ke ruang kerjanya. Jae Hee mengantar suaminya ke ruang kerja dan kemudian kembali ke ruang makan bersama Eun Gi dan Pengacara Joon Ha. Jae Hee meminta ajumma untuk membawa eun Suk ke ruang makan.
Di depan Jae Hee, Eun Gi bertanya pada Joon
Ha tentang kelanjutan laporannya pada polisi. Dengan santai Eun Gi memberitahu
Jae Hee kalau ia ingin menuntut pria yang melakukan pemerasan pada Jae Hee.
Jae Hee menggenggam sumpitnya
lebih erat, mencoba menyembunyikan perasaannya. Genggamannya lebih erat saat
Eun Gi mengajarinya untuk tak takut pada orang-orang seperti itu. Ia telah
melaporkan kasus ini pada polisi, tapi menurut Joon Ha, polisi meminta
pernyataan resmi dari si korban pemerasan. Wow..counterattack from our Eun Gi.
Ma Roo telah berdiri di depan rumah Jae Hee dengan membawa amplop uang pemberian
Jae Hee. Ia melihat kepergian Eun Gi dan Joon Ha. Dia berdiri di depan pintu pagar
lama, Ma Roo menulis
nama "Han Jae Hee"di amplop uang dan kemudian memasukkannya ke dalam kotak pos.
Tiba-tiba Ma Roo mendapat telepon dari Choco yang menangis ketakutan.
Choco: "oppa..aku takut.. polisi datang ke rumah kita.. mereka menggeldah rumah kita". Ma Roo bergegas pulang ke rumahnya.
Salah satu polisi memperkenalkan
diri dan meminta Ma Roo untuk ikut dengannya, karena dia menjadi tersangka, “Han
Jae Hee menuntut anda untuk kasus pemerasan.”
Ma Roo tersentak kaget, “Apa yang
kau bilang? Siapa yang menuntutku”
Polisi itu pun menegaskan lagi "Han Jae Hee"
Choco menangis membela kakaknya,
“Untuk apa kakakku melakukannya? Ia tak akan pernah melakukan hal seperti itu!”
Tapi polisi tetap memintanya
untuk ikut ke kantor polisi maka Ma Roop un digiring pergi. Di bawah hujan lebat,
Choco mengejar kakaknya dan memohon agar kakaknya tak dibawa pergi. Ma Roo meminjam
payung dan memberikan pada Choco. Tapi Choco menepis payung itu. Ma Roo tak
bersalah, kenapa harus dibawa pergi?
Ma roo
menenangkannya dan menyuruh Choco untuk segera masuk kedalam, “Keringkan
tubuhmu, ganti baju dan masaklah air untuk minum obat.”
Choco tak mau,"Kalau oppa tak
masuk ke dalam rumah sekarang, ia juga tak mau." Maru mulai hilang kesabarannya
dan mengatakan kalau dokter melarangnya untuk berhujan-hujan. Tapi Choco tak
peduli, “Memang kenapa kalau aku mati?” . “Kalau begitu mati saja. Kau
kehujanan di sini dan akan mati, bodoh!” teriak Maru kesal.
Jae Hee sudah sampai di depan
kantor polisi dan hujan juga telah berhenti. Tapi Jae Hee tak kunjung keluar
dari mobil hingga Pengacara Ahn memintanya untuk turun.
Di ruang pemeriksaan, Jae Hee
dihadapkan dengan Ma Roo yang hanya terdiam memandang tajam padanya. Namun Jae
Hee pun juga diam. Saat penyidik bertanya apakah Ma roo memeras Jae Hee untuk
mendapatkan uang 100 juta won, Jae Hee diam ragu untuk menjawab.
Jae Hee pulang dengan hati berat.
Hatinya terasa lebih berat lagi saat menerima amplop uang dari pembantunya. Kang Ma Roo ternyata menolak uangnya.
Di ruang kerja, Eun Gi dimarahi
habis-habisan oleh ayahnya karena keputusannya meluluskan permintaan dari
Serikat buruh yaitu mengubah status pekerja kontrak menjadi permanen. Namun
menurut Eun Gi, hal ini sudah sewajarnya. Ia sudah memperhitungkan semua
biayanya. Dan jika ayahnya menganggap kalau keputusannya ini memberatkan
perusahaan, maka ayahnya salah, karena perusahaan mampu menanggung pengeluaran
ini.
Ayahnya marah hingga melempar asbak
ke dinding. Tapi Eun Gi tak bergeming, walaupun pecahan kaca menggores pipinya
hingga berdarah. Namun kata-kata ayah berikutnyalah yang menggores hatinya,
Jae Hee menemui Eun Gi yang duduk
di ruang tengah. Eun Gi menanyakan kelanjutan kasus pemerasan itu, "kudengar kasusnya dihentikan karena tak cukup bukti... kemana perginya uang 100juta won itu?"
Jae Hee: "uang Itu ada di aku.", Eun Gi tanya "Kenapa?"
“Karena dia gagal menjalankan
misinya. Aku menyuruhnya untuk membunuh anak suamiku dari pernikahannya yang
pertama. Tapi ia gagal. Namun jangan lupa kalau kau 7 tahun yang lalau kau
pernah ditahan karena memiliki narkoba namun dibebaskan. Jika para pemegang
saham mengetahuinya, kau tak akan mampu mewarisi perusahaan ini,” Jae Hee mulai
mengeluarkan cakarnya. “Kau masih muda, dan sepertiga pemegang saham sudah tak
menyetujuimu. Aku dan Eun Seuk berterima kasih padamu, karena informasi ini
akan membuatmu pergi.”
Eun Gi tak mengkeret mendengar
ancaman Jae Hee. Lantas kenapa kalau ia pernah ditahan? “Apakah kau ingin
memberitahukan hal ini pada para pemegang saham sekarang?”
Jae Hee tertawa. Ia tak berencana
melakukan permainan itu karena pasti akan membosankan. Kalau Eun Gi sudah bisa
menyamainya, maka ia akan bermain dengan Eun Gi. “Saat itu mari kita
bertanding. Apakah kau yang menang dan aku mati ataukah sebaliknya. Untuk
sekarang ini, jangan paksa aku hingga aku membocorkan rahasiamu.”
Selepas dr kamar Eun Gi, Jae hee membacakan dongen untuk menidurkan Eun Suk. sedangkan Uri Eun Gi berusaha meredakan emosi dengan menenggak minuman keras langsung dari botol, dan diapun tertidur di ruang kerjanya.Keesokan paginya, ia dibebaskan. Sesampainya di rumah, ia mencari Choco, mungkin ingin berbaikan. Namun ia tak menemukan adiknya walau ia mencari di seluruh penjuru rumah dan halaman. Ia mulai khawatir karena bayangan Choco pun juga tak ada.
Hingga salah satu tetangganya
memberitahu kalau Choco sekarang ada di rumah sakit. Kemarin Choco mengejar
Ma Roo di tengah hujan lebat, dan ia pingsan di dekat bukit. Salah satu
tetangganya menelepon rumah sakit, dan pihak rumah sakit langsung membawanya.
Ma Roo segera pergi menuju rumah
sakit. Di ICU, Choco tergeletak tak sadarkan diri, dengan selang oksigen dan
infus terpasang di tubuhnya. Maru terduduk lunglai melihat kondisi adiknya yang
seperti orang tidur, dan ingatan akan kejadian kemarin menghantamnya.
Bagaimana ia menyuruh Choco untuk mati saja di tengah hujan deras dan bagaimana Choco yang menuduhnya lebih memilih Jae Hee daripada dirinya. Dan jika nanti Choco mati, maka semua itu adalah salah Ma Roo.
Bagaimana ia menyuruh Choco untuk mati saja di tengah hujan deras dan bagaimana Choco yang menuduhnya lebih memilih Jae Hee daripada dirinya. Dan jika nanti Choco mati, maka semua itu adalah salah Ma Roo.
Ia meraih tangan Choco,
sepertinya menyesal. Tapi apakah benar menyesal? Mungkin lebih dari itu, karena
saat ia mengangkat wajahnya, matanya menyiratkan sebuah ambisi.
Sepertinya Eun Gi melepas stress
dengan mengendarai motor balapnya. Saat di jalan beraspal, ia ngebut menyalip
sana sini. Saat belok ke jalan tanah dan berpasir, kecepatan motornya tak dikurangi, malah semakin ditambah.Naluri bersaingnya muncul saat ada pengendara motor melompat dari atas dan menyalipnya. Eun Gi tak mau kalah, ia semakin mempercepat laju kendaraannya. Jadilah mereka berdua saling menyalib.
Akhirnya Eun Gi memenangkan round
ini karena lawannya tak berhasil menghindari batang pohon yang melintang di
jalan hingga terjatuh.
Namun nasib baik tak berpihak
padanya. Rem tangannya tiba-tiba blong dan sepeda motornya tak mau berhenti
padahal tebing sudah di depan mata. Segera Eun Gi memutar motornya 360
derajat hingga motor itu berhenti di tepi jurang.
Dia hampir jatuh saat ranting tempat dia bergantung patah..namun datanglah sang penyelamat
KOMENTAR :
Ma Roo sebenarnya awalnya ikhlas untuk menggantikan Jae Hee dipenjara. Dia bahkan ikhlas untuk melepaskan Jae Hee yang hidup sebagai istri muda orang kaya. Namun karna capur tangan si anak tiri.. akhirnya Jae Hee "terpaksa" memfitnah Ma Roo untuk keselamatan hidupnya dan anaknya. Dan untuk kali ini Ma Roo tak tinggal diam.. terlebih dia menyesal karena perbuatan Jae Hee, 2x adiknya hampir mati. Dan kali ini.. dia mencoba mendekati Seo Eun Gi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar