Selasa, 25 September 2012

SINOPSIS NICE GUY/INNOCENT MAN EPISODE 3

Episode kali ini adalah episode Jae Hee... disini Jae Hee memperlihatkan ambisinya untuk mengejar kekayaan. Kali ini ditunjukkan pula ketakutan Jae Hee terhadap masa lalunya dengan Ma  Roo. Dan Ma Roo menunjukkan ketertarikan untuk menggunakan Eun Gi agar dekat dengan Jae Hee.


Serikat pekerja mengadakan aksi protes dan meminta Seo Eun gi untuk turun dari jabatannya karena telah melanggar kesepakatan yang mereka buat bersama. (Kesepakatan pengangkatan pekerja kontrak menjadi pekerja tetap, yang ditentang ayah Eun Gi di episode 2)
Eun gi yang baru saja tiba langsung menemui mereka untuk memberukan penjelasan. Joon Ha berusaha menghalanginya, namun Eun Gi berbalik menatapnya dan menyuruhnya minggir. Saat Eun gi tiba di depan mereka, para pekerja langsung mengerubunginya. Joon ha dan beberapa petugas melindungi Eun gi dari serbuan pekerja.

Eun gi berkata kalau dia ingin berdialog dengan mereka tapi para pekerja tidak mendengarkannya. Malah ada di antara mereka yang melemparkan telur mentah ke kepala Eun gi.

Ma Roo menarasikan Seo Eun Gi
  

“Seo Eun gi. Pewaris pertama dari direktur Grup Tae San. Saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif. Kasar, sombong, dingin, mudah marah. Tidak punya teman ataupun kekasih. Pusat perbelanjaan, bioskop, museum, dan golf adalah gaya hidupnya. Hobi satu-satu adalah balap motor."

Eun Gi mengeluarkan boneka barbie dari laci, sambil tersenyum dia mengajak bicara barbie itu "Apakah kau mau ikut dengan Unnie?" *hiii Eun Gi lebih nganggep barbie itu temennya... because she has no friend

Kang Ma Roo memacu kencang motor balapnya. Dia mengingat pertemuannya dengan Jae Hee di kantor polisi saat dituduh melakukan pemerasan.
Pengacara Ahn : "Nyonya sangat sibuk, kami harus segera pergi." ucapnya pada petugas polisi yang sedang menginterogasi Kang Ma Roo sebagai tertuduh dan Han Jae Hee sebagai penuduh.
Polisi tersebut minta maaf mengganggu waktu Jae Hee tapi dia tidak punya pilihan lain karena itu adalah prosedur penyelidikan. Kang Ma Roo tiba2 menyela pembicaraan mereka.
Ma Roo : "Bolehkah saya bertanya?"



"Seperti apa dunia itu? Dunia yang Nyonya tinggali. seperti apa dunia itu? memfitnah orang yang tak bersalah, untuk menghancurkan dia. Untuk membiarkan mereka kehilangan rasionalitas. Untuk membiarkan mereka menyerah di hidup mereka ". Ma roo memanggil Jae Hee dengan "Nyonya" sebagaimana pengacaranya dan polisi tsb memanggilnya, namun arti sebenarnya lebih "sarkastik".

Si penyidik menegur Ma roo.

“Kalau aku jawab, apa kau bisa memahaminya?” jawab Jae hee. “Kehidupan yang mewah dan gemerlap seperti dalam mimpi sampai-sampai kau seakan berhenti bernafas. Kalau aku menjelaskannya kepadamu, apakah orang sepertimu bisa membayangkannya?”. Ma Roo syok mendengar kata-kata itu dari orang yang berharga baginya.

Kembali ke masa sekarang


Ma Roo datang menolong Eun Gi. Dia sendiri tidak menduga kalau Eun Gi akan mengalami kejadian seperti itu. Sekuat tenaga dia menarik Eun Gi ke atas dan berhasil. Mereka berdua terbaring di tanah, namun seketika Eun Gi bangun dan melihat ke bawah tepi jurang lalu berteriak.



Motorku,” itulah kata pertama yang Eun gi ucapkan.
“Motorku…motorku,” ucapnya. Ma roo menahan tangannya.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Ma roo keheranan melihat tingkah Eun gi.
“Lepaskan aku! Lepaskan aku!”
“Apa kau mau bunuh diri?”



“Boneka ku. Bonekaku ada di sana,” ucap Eun gi tanpa melepaskan tatapannya dari motornya. Dia meronta saat Ma roo mencoba menariknya menjauh. “Eomma…eomma!!” teriak Eun gi seperti anak kecil. Dia menangis. Ma roo berhenti menarik Eun gi.

Eun gi kembali mendekati pinggir jurang dan lagi-lagi Ma roo menahannya. Dia berkata kalau dia akan mengambilkan barang Eun gi yang ada di motornya. Untuk pertama kalinya Eun gi mengalihkan perhatinnya ke Ma roo.

Ma roo mengikatkan tali pada batang pohon dan badannya lalu menuruni jurang. Eun gi menunggu dengan cemas.

Ma roo tiba di dekat motor lalu membuka tas Eun gi dan mengeluarkan sebuah boneka. Dia memperlihatkan boneka itu kepada Eun gi. Eun gi mengangguk menandakan bahwa boneka itu lah yang dia maksud.namun saat Ma Roo mencoba naik ke atas, talinya terputus...dan Ma roo terlempar ke bawah jurang.

Eun gi menunggu di depan ruang Emergency. Dokter keluar dan memberitahu Eun gi bahwa Ma roo tidak apa-apa. Walau ada tulang rusuknya yang patah dan kakinya terluka, waktu penyembuhan tidak akan lama mengingat Ma roo masih muda. Eun gi masih menatap kosong.

Dokter itu lalu menanyakan hubungan Eun gi dengan si pasien.

“Dia seseorang yang tak kukenal” jawab Eun gi dengan tatapan kosong


Eun gi masuk menjenguk Ma roo. Wajah Ma roo penuh luka. Eun gi mengamati Ma roo.


Tidak lama Ma roo membuka matanya karena merasakan sakit di dadanya. Dia melihat Eun gi yang sedang berdiri di samping tempat tidurnya.

“Apa kau mengenalku? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Mengapa kau melakukan hal gila seperti itu? apa yang kau inginkan dariku? uang?” Tanya Eun gi. Bagi Eun gi seseorang tidak mungkin mau melakukan hal yang berbahaya untuk orang yang tidak dia kenal jika orang itu tidak meinginginkan sesuatu.

“Apa itu yang diajarkan orang tuamu?” potong Ma roo. “Jika merasa berhutang budi atau bersalah, kau menjadi lebih keras kepala, mudah marah, dan langsung mencurigai orang tersebut. Jika berutang budi, berterima kasihlah. Kalau merasa bersalah, minta maaflah. Orang tuaku mungkin tidak berpendidikan. Tapi setidaknya dia mengajariku hal-hal yang baik.” Eun Gi terkejut dengan perkataan Ma Roo.

Eun gi baru mau buka mulut tapi Ma roo tidak memberikannya kesempatan. “Sudahlah. Aku melakukannya dengan keinginan sendiri. Jadi mulai sekarang mari berpura-pura kita tidak pernah bertemu. Tolong tinggalkan aku sendiri. Aku mau istirahat.”
Eun gi keluar dari kamar Ma roo sambil menahan kekesalannya. Tapi kemudian dia teringat apa yang sudah Ma roo lakukan demi dirinya. “Kenapa? Kenapa kau melakukannya untukku?”

Sepeninggal Eun Gi, Ma roo kesakitan menahan luka-lukanya. Sedangkan artis antagonis kita... Jae hee menemani Eun sok bermain. Dia teringat kejadian pada malam Eun gi dimarahi oleh ayahnya karena membuat kesepakatan dengan serikat pekerja. Dia mencuri dengar saat Presdir Seo berkata bahwa ahli warisnya bukan hanya Eun gi tapi juga Jae hee dan Eun suk.

Eun suk mendekati ibunya. Jae hee berkata pada Eun suk bahwa mulai sekarang Eun suk tidak perlu khawatir karena mereka juga sudah dianggap keluarga oleh Presdir Seo. 
Jae Hee : "Kau harus mendapatkan semuanya. Dunia yang tidak pernah ibu bayangkan, dunia yang bahkan ibu tak berani impikan. Kau harus mengambil semuanya.. apa kau mengerti putraku??". Eun suk hanya mengangguk, mengiyakan perkataan ibunya. Pengacara Ahn melihat Jae hee dari jauh lalu menelepon Sekretaris Jo.

Pengacara Ahn bertemu dengan Sekretaris Jo. Dia tahu kalau Pengacara Park menyuruh Sekretaris Jo untuk menyelidiki hubungan Jae hee dan orang yang memerasnya. Dia ingin tahu apa yang Sek. Jo sudah temukan. Awalnya Sek. Jo menolak, tapi karena pengacara Ahn memberikan penawaran, dia mengubah pikirannya.

Sek. Jo menceritakan bahwa sebelum Jae hee bertemu Presdir, Jae hee menjalin hubungan dengan pria itu (Ma roo, red). Bahkan mereka tumbuh bersama. Pengacara Ahn meminta Sek Jo untuk tidak memberikan laporan tersebut kepada Pengacara Park.

Dan benar saja, Sek Jo memberitahu Pengacara Park bahwa dia tidak menemukan hubungan apa-apa antara Jae hee dan si pemeras. Pengacara Park awalnya tidak percaya karena dia mendengar dari para pramugari bahwa Jae hee dan Ma roo saling mengenal. Tapi Sek Jo memberitahu bahwa dia sudah bertanya kepada para pramugari tersebut. Mereka berkata bahwa mereka mungkin salah dengar karena terlalu sibuk.

Sek Jo lalu melanjutkan laporannya tentang Kang Ma roo. Dia juga memberikan foto Ma roo kepada pengacara Park. “Pasti ada sesuatu,” kata Pengacara Park.



Keluarga Seo sedang menikmati makan pagi (kayaknya). Eun gi sibuk menulis. Dan ternyata yang dia tulis adalah Kang Ma roo. Kang Ma roo. Kang Ma roo. Kang Ma roo….

Pengacara Ahn mendapat telepon dari dr. Kim. Dia memberitahu bahwa organ Eun gi cocok untuk didonorkan kepada Presdir Seo. Dia menyampaikan kabar itu kepada Eun gi. Tapi Eun gi yang sedang tenggelam dengan ingatannya sendiri tidak mendengarkan perkataan Pengacara Ahn. Pengacara Park yang duduk di depannya memanggilnya. Eun gi tersadar dan buru-buru menutup bukunya.

Pengacara Ahn mengulang kembali apa yang sudah dia katakan. Menurut dr. Kim mereka bisa segera melakukan operasi transplantasi.

Presdir Seo bertanya apa yang sedang mereka bicarakan. Eun gi menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk menyembuhkan Presdir Seo adalah dengan transplantasi organ (belum tahu Presdir Seo sakit apa). Dan donor terbaik adalah yang berasal dari keluarga sendiri. Jadi sekarang mereka bisa mencocokkan waktu kosong antara dirinya dan Presdir Seo.

“Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan itu?” Presdir Seo membentak Eun gi di depan semua orang. Dia juga memarahi Pengacara Ahn dan park karena tidak melarang Eun gi.

“Mengurus Bagian Public Relation saja kau tidak becus, dan sekarang kau mau mengkhawatirkan orang lain?” 

Jae hee berusaha menjadi penengah. Dia menasehati Eun gi bahwa ucapan ayahnya itu benar. Sebagai pewaris satu-satunya Grup Tae san, Eun gi harusnya bisa menjaga kesehatannya. Untuk masalah donor yang sedang mereka bicarakan, mereka tidak perlu khawatir karena dia juga melakukan tes. Hasilnya menyatakan bahwa dia juga bisa melakukan transplantasi organ untuk Presdir Seo. Eun gi terkejut mendengarnya.
“Aku bukanlah siapa-siapa. Jadi kalau pun nantinya sesuatu terjadi padaku, itu tidak akan mempengaruhi masa depan Grup Tae san. Jadi biarkan aku saja yang melakukannya,” lanjut Jae hee sambil tersenyum lembut kepada Presdir Seo.

Presdir Seo dan Jae hee sedang menuju ke suatu tempat. Presdir Seo menggenggam tangan Jae hee. Jae hee tersenyum lembut. Presdir Seo lalu menyuruh Pengacara Ahn agar perjanjian Pusat Perbelanjaan Busan yang akan dilakukan bulan depan ditandatangani atas nama Jae hee.

Tapi Jae hee menolak. Menurutnya apa yang dia lakukan tidak akan pernah bisa dibayar oleh Tae san grup sekalipun. Dia melakukan ini (menjadi donor untuk Presdir Seo) karena mereka adalah keluarga, itulah yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri untuk suaminya.


“Aku adalah keluarga mu kan? Walau tidak seorang pun yang mengakuiku atau menghormatiku, aku selalu berkata pada diriku sendiri bahwa aku adalah keluarga Presdir, aku adalah ibu dari anaknya. Karena itu, tolong jangan pernah berpikir untuk membalas apa yang aku lakukan,” ucap Jae hee. Dia menangis.

Presdir Seo lalu memutuskan sekaranglah saatnya menutup mulut semua orang yang selalu menjelek-jelekkan atau menghina Jae hee. “Orang ini (Jae hee, red) adalah keluargaku, ibu dari anakku, dan istriku. Menurutmu, bagaimana cara mengumumkan hal ini kepada semua orang sebelum aku mati?” tanya Presdir kepada pengacara Ahn.

Pengacara Park memberitahu Eun gi bahwa ayahnya akan meresmikan pernikahannya dengan Jae hee. Dia bertanya apa yang akan Eun gi lakukan. Eun gi menjawab bahwa dia akan menghubunginya lagi nanti.
Eun gi berjalan ke meja kerjanya. Dia terkejut melihat bonekanya ada di atas meja. Dia mengingat kembali kejadian saat ibunya menyerahkan boneka itu kepadanya.

Ibu Eun gi menyerahkan boneka itu kepada Eun gi karena itu adalah boneka favorit Eun gi waktu dia masih kecil. Selain itu, sebelum pergi ibu Eun gi mengajak Eun gi untuk ikut bersamanya, meninggalkan rumahnya agar dapat hidup normal. Dia merasa kalau Eun gi tetap tinggal di rumah itu, Eun gi akan menderita. Tapi Eun gi menolak keras ajakan ibunya., "Aku tidak akan melakukannya.. aku tidak akan menghindar. Aku akan menghadap semuanya dan setelah aku menang, aku akan menghancurkan semuanya!! aku tidak akan hidup sepertimu eomma!!".  Dia bahkan membuang boneka itu di depan ibunya.
“Aku tidak mau seperti ibu yang hanya bisa melarikan diri seperti seorang pengecut. Aku bukan orang seperti itu.” 

Sekretaris Eun gi datang. Eun gi bertanya bagaimana boneka itu bisa ada di atas mejanya. Sekretarisnya menjawab bahwa Ma roo lah yang menitipkan boneka tersebut pada dokter di Rumah Sakit. Selain boneka, Ma roo juga mengembalikan hadiah Eun gi yang dia berikan sebagai ucapan terima kasih.

Eun gi kembali menjenguk Ma roo tapi ternyata Ma roo sudah meninggalkan RS. Eun gi lalu meminta alamat rumah Ma roo pada pihak RS.


Ma roo pulang ke rumahnya. Dia menerima sms dari Choco. Choco mengabarkan bahwa mulai saat ini dia akan tinggal di rumah ibu yang melahirkannya. Jadi dia meminta Ma roo agar tidak perlu lagi mengkhawatirkan dirinya dan jangan melakukan pekerjaan bodoh hanya untuk biaya pengobatannya. dan tak lupa Choco mengucapkan terima kasih atas semuanya selama ini.
“Terima kasih karena selama ini telah merawatku, Oppa. Jaga kesehatanmu. Annyeong Oppa.” Ma roo menghubungi hp Choco tapi tidak aktif.

Jae hee berdiri di depan rumah Ma roo. Seseorang memanggilnya. Jae hee berbalik dan terkejut melihat Pengacara Ahn nada di belakangnya.


Di rumahnya Ma roo mendapati Jae gil sedang bersama seorang wanita. Wanita itu terpesona dengan ketampanan Ma roo. Tapi Jae gil berkata padanya bahwa itu adalah hasil operasi plastik hahahaha


Ma roo mengganti pakaiaannya. Di melihat foto dirinya bersama Choco dan foto mereka saat masih kecil bersama ayahnya. Dia kembali menghubungi hp Choco tapi hasilnya masih sama.


Ma roo kembali meninggalkan rumahnya. Di luar dia bertemu dengan Eun gi yang sedang mencari alamatnya.

Seperti biasa, Eun gi mengoceh tentang banyak hal. Tentang kakinya yang sakit karena mencari alamat Ma roo dan juga tentang pendapatnya tentang lingkungan tempat tinggal Maroo. Dia sendiri baru tahu kalau ada daerah (boleh dibilang kumuh) itu di Seoul. Melihat ekspresi wajah Ma roo yang biasa-biasa saja, Eun gi lalu meminta maaf atas ocehannya. Dia tidak bermaksud apa-apa.

“Apa kau menyukaiku?” Tanya Ma roo tiba-tiba. 

 “Ne?” tanya Eun Gi

“Untuk menutupi rasa ketertarikanmu kepadaku, kau mengucapkan hal-hal yang berlebihan,” kata Ma roo.

“Ajusshi sepertinya kau salah paham. Aku ke sini untuk…,”

“Kau tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku. Aku menolongmu atas keinginanku sendiri. Jadi kita tidak perlu saling berhugungan lagi. Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu?”

Tapi Eun gi tidak mau merasa berhutang budi kepada orang lain.


 Hutang mu akan aku hapus,” kata Ma roo sambil berjalan mendekati Eun gi. Dan tepat di depan wajah Eun gi, Ma roo menirukan suara benda jatuh.


 Ma roo berjalan menuju mobilnya. Choco menghubunginya. Choco mengeluhkan kehidupannya yang selalu saja diliputi masalah. Dia juga mengeluhkan ibu yang baru dia temui setelah 20 tahun berpisah. Ma roo mendengar suara benda dilempar dan suara pria yang berteriak memanggil Choco.

Choco meneriaki pria itu agar berhenti melempar barang. Kalau tidak, dia akan menelepon polisi. Telepon terputus. Ma roo mencoba kembali menghubunginya tapi hp Choco sudah tidak aktif.



Ma roo segera memasang sabuk pengamannya tapi tiba-tiba Eun gi masuk ke dalam mobilnya dan duduk disampingnya.

“Jadi ini yang diajarkan orang tuamu? Meninggalkan seseorang sebelum orang itu menyelesaikan ucapannya?” Eun gi mengoceh panjang lebar tapi Ma roo langsung menyuruhnya turun. Eun gi menolak. Ma roo berkata kalau dia punya urusan yang sangat penting.

“Baik. Kita pergi bersama. kita bisa berbicara selama dalam perjalanan,” ucap Eun gi sambil memasang sabuk pengamannya. Ma roo tidak mau meladeninya. Dia menyalakan mesin mobilnya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Dalam perjalanan Ma roo mengingatkan Eun gi bahwa mereka mungkin baru akan kembali ke Seoul besok. Eun gi tidak takut mendengarnya. Dia mengira kalau itu hanya ancaman. Tapi Eun gi sadar kalau Ma roo benar-benar serius dengan ucapannya begitu Ma roo melajukan mobilnya meninggalkan kota Seoul.

Ma roo kembali mengingatkan Eun gi bahwa dia tidak akan menghentikan mobilnya sebelum dia tiba di tempat yang dia tuju. Jadi kembali dia meminta Eun gi untuk turun sebelum Eun gi menyesal karena ikut dengannya. Eun gi menolak. Dia ingin berbicara dengan Ma roo sepanjang perjalanan sebelum mereka sampai di tempat tujuan.
 
Eun gi memberikan hadiah yang Ma roo kembalikan dan sekali lagi Ma roo mengembalikannya. Eun gi menanyakan alasan Ma roo mengembalikan pemberiannya. Ma roo tidak menjawab. Eun gi merasa setelah apa yang Ma roo lakukan untuknya, dia harus memberikan sesuatu sebagai kompensasi. Ma roo masih diam.

“Ah…apa mungkin karena kau ingin lebih?” Tanya Eun gi. “Jogiyo!” Lama-lama BT juga si Eun gi dicuekin.

“Kalau aku memaksa, apa kau akan memberikan sesuatu yang lain? Aku tidak butuh jam. Yang aku inginkan 100 kali lebih berharga. Apa kau masih mau memberikannya?” Tanya Ma roo, akhirnya. Eun gi tersenyum kecil tidak percaya. “Kau pasti bisa membeli benda yang aku inginkan ini. Jadi kalau aku membujukmu, apa kau mau membelikannya untukku?”

“Bagaimana kalau kita kembali ke RS. Sepertinya setelah kejadian itu bukan tulang mu yang bermasalah tapi kepalamu,” begitulah jawaban Eun gi.

“Setelah kecelakaan itu, pandanganku terhadap wanita berubah. Sebelum kecelakaan, aku tidak pernah tertarik dengan wanita sepertimu. Tapi kemarin, aku sedikit terpesona saat melihatmu,”  Ma roo mulai merayumu. Eun gi minta dia menepikan mobilnya.

“Sudah kubilang kalau aku tidak akan berhenti sebelum sampai ke tempat yang aku tuju.” Eun gi menatap Ma roo. “Jangan menatapku seperti itu. Aku sudah memberitahukanmu bahwa tipe gadis yang kusuka berubah sejak kecelakaan itu. Pemarah, pemilih, dan juga perawan tua.” Eun gi hanya bisa menghela nafas. LOL :D

 “Sebenarnya kau mau kemana? Kapan kita akan sampai,” Eun gi melampiaskan kekesalannya.

Hari sudah malam saat mereka akhirnya tiba. Sebelum turun, Ma roo memberitahukan Eun gi bahwa kalau dia mau pulang, dia bisa berjalan sekitar sepuluh menit untuk tiba di terminal bis yang bisa mengantarkannya kembali ke Seoul. Kalau Eun gi tidak suka naik bis, Eun gi juga bisa menggunakan taxi. Ma roo yakin Eun gi punya cukup uang untuk membayar argonya.
“AKu adalah pria yang suka menggoda wanita sejak pertemuan pertama. Selamat tinggal,” Ma roo meninggalkan Eun gi. Eun gi penasaran kemana Ma roo pergi.

Ma roo memasuki sebuah warung makan. Eun gi juga turun dari mobil dan mengikuti Ma roo. Tiba-tiba seorang pria datang dan menendang meja yang sedang dibersihkan oleh seorang wanita. Eun gi terkejut.

Pria itu mencari anak si wanita, Choco, karena Choco telah melaporkannya kepada polisi. Si pria marah karena Choco menuduh dirinya telah membuat ibunya menderita. Dia melampiaskan kemarahannya dengan memukuli ibu Choco.

“Kapan aku memukulmu? Katakan kapan aku memukulimu!” katanya sambil terus memuluki ibu Choco.

Ma roo datang menahan si pria saat dia akan memukul ibu Choco dengan kursi. Si pria naik pitam. Dia melayangkan tangannya ke Ma roo. Ma roo menahannya.

“Sudah kubilang hentikan! Aku bisa 
dengan mudahnya mematahkan tulang rusukmu,” Ma roo menepiskan tangan si pria dan mendekati ibu Choco. Si pria marah dan mendorong Ma roo ke belakang. Ma roo merasakan sakit di dadanya tapi dia tidak memperdulikannya begitu melihat si pria kembali menganiaya ibu Choco. 
 Ma roo memukuli si pria tanpa ampun. Si pria meminta tolong pada ibu Choco. Ibu Choco (Soon ja) berdiri mengambil sapu lalu memukuli Ma roo. Ma roo yang memang belum sembuh tidak dapat melawan. Eun gi tidak tahan melihatnya. Dia ingin melerai si wanita tapi Choco datang lebih dulu.

Dia melarang ibunya memukuli Ma roo.

“Eomma jangan pukul dia! Dia Oppa ku.” Ma roo terbatuk. Dia memegang dadanya.
 Eun gi mendekati Ma roo yang sedang duduk sendiri di pinggir pelabuhan. Dia menyarankan Ma roo agar kembali memeriksakan tulangnya ke RS. 

“Kau melihatnya?” tanya Ma roo.

“Perkelahiannya? Yah, kau terlihat hebat. 2 lawan 1,” sindir Eun gi. Dia tersenyum kecil.



Soon ja memberikan makanan buat Choco. Dia membela diri bahwa pukulannya tidak keras jadi Ma roo tidak akan terluka parah. Choco tidak mau makan. Dia manyun. Ibunya langsung berdiri. “Dimana kakakmu?” tanyanya.

 




Soon je menarik tangan Choco dan pergi menemui Ma roo. Dia meminta Ma roo agar membawa kembali Choco bersamanya.

“Tidak mau. Eomma, apa kau tidak tahu bagaimana susahnya kehidupan kakak karena aku?”
“Apa boleh…aku membawanya?” Tanya Ma roo pada Ibu Choco.

“Tidak mau.” Choco berkeras. “Kau sudah membuangku selama 20 tahun. Sekarang saatnya kau yang menjagaku,“ ucap Choco kepada ibunya.

“Choco-ah,” tegur Ma roo.

“Sejujurnya aku tidak sanggup menjaganya. Aku tidak punya apa-apa, uang atau makanan. Sejak dia datang, emosi suamiku selalu jelek. Kalau aku harus memilih diantara mereka berdua, aku lebih memilih pria itu. Tanpa dia, aku tidak bisa hidup,” kata ibu Choco. Kejam sih tapi mungkin inilah cara dia agar Choco tidak tinggal bersamanya, karena dia tahu kehidupan Choco dengan Ma roo lebih baik daripada jika Choco tinggal bersamanya.


“Aku juga tidak punya perasaan terhadapmu. 20 tahun lalu aku melahirkanmu dan meninggalkanmu pada kakakmu,” tambah ibu Choco.

“Kemasi barang mu sekarang!” perintah Ma roo kepada Choco.

“Wooh, daebbak. Bagaimana Eomma bisa berkata seperti itu?” tanya Choco.

“Karena itu kau harus kembali ke kakakmu. Dia bukan orang asing. Lagi pula kalian itu sedarah. Dan kau,” kata ibu Choco kini berbicara kepada Ma roo, “Kau sudah menjaganya selama 20 tahun. Seharusnya kau menjaganya sampai dia mati…”

“Apa kau tidak mendengarku? Kemasi barang mu sekarang!” Ma roo membentak Choco. Choco mengerjakan perintah Ma roo.

“Kalau Choco nanti menikah, tolong hubungi aku,” pinta Ibu Choco kepada Ma roo.


“Tidak akan. Aku tidak akan pernah menghubungi mu,” jawab Ma roo. Ibu Choco berbalik. Saat itu dia mulai menangis.


Eun gi melihat dan mendengar semuanya.

Choco datang membawa kopernya. Awalnya dia enggan memberikan koper itu ke Ma roo. Tapi akhirnya dia mengalah.

“Nuguseyo? (Siapa kamu?)” Tanya Choco kepada Eun gi begitu dia naik ke mobil. Eun gi tidak tahu mau menjawab apa.

“Dia kenalanku,” jawab Ma roo. “Pasang sabuk pengamanmu.” Ma roo berbicara kepada Choco dan Eun gi. Tapi hanya Choco yang mendengarkannya. Entah apa yang sedang ada di pikiran Eun gi. Ma roo terpaksa memakaikan sabuk pengaman Eun gi.
 Dalam perjalanan ke Seoul, Choco menangis. Ma roo memberikan dia tisu tanpa berkata apa-apa. Tangisan Choco semakin keras. Ma roo memutar radio dan membesarkan volumenya. Eun gi memperhatikan Ma roo.
Jae hee datang menemui Pengacara Ahn sambil menawarkan minuman. Dia menceritakan semua tentang masa lalunya yang mengerikan dan hubungannya dengan Ma roo.

Selama 25 tahun dia hidup menderita di rumahnya sendiri. Tapi Ma roo membantunya melewati itu semua. Baginya Ma roo adalah rumah yang selalu memberinya kehangatan. Di dunia yang kejam ini, dia adalah rumah yang selalu melindungi dirinya. Ma roo adalah satu-satunya orang yang selalu berada di pihaknya, selalu percaya padanya.

Jae hee juga menceritakan pengkhianatannya kepada Ma roo. Tentang pembunuhan yang dia lakukan yang kemudian diakui Ma roo sebagai perbuatannya. Karena itu, kehidupan Ma roo jadi hancur.

“Tapi aku, agar aku bisa bertahan, aku kembali mengkhianatinya. Aku menikmati hidupku yang sekarang. Aku ingin hidup seperti ini selamanya. Kalaupun aku hanya bermimpi, aku tidak ingin bangun sampai aku mati,” ucap Jae hee. “Tolong bantu aku,” Jae hee mengiba kepada Pengacara Ahn.


Presdir Seo kesakitan di kamarnya sementara Jae hee belum kembali.
  
Ma roo mengantar Eun gi yang sudah tertidur sampai ke depan rumahnya. Dia mendapati Jae hee yang sedang mabuk diantar oleh Pengacara Ahn.






Pengacara Ahn bertanya mengapa Jae hee percaya padanya, orang yang sudah melayani Presdir selama 25 tahun. Presdir bahkan lebih mempercayai dirinya daripada keluarganya sendiri.

“Bagaimana jika aku menceritakan semua yang sudah kau ceritakan padaku kepada Presdir?”

“Kau tidak akan melakukannya,” jawab Jae hee percaya diri.

“Mengapa kau begitu yakin?”

“Karena kau menyukaiku,” jawab Jae hee. “Sejak aku belum menikah dengan Presdir.” Jae hee mendekati Pengacara Ahn lalu menciumnya. Ma roo melihatnya.

“Jika kau ingin beritahu Presdir, lakukanlah.” Pengacara Ahn meninggalkan Jae hee di depan pintu.


Ma roo keluar dari mobilnya. Jae hee terkejut melihatnya. Ma roo tidak menyapa Jae hee. Dia pergi membangunkan Eun gi dan itu membuat Jae hee semakin terkejut. 

 
“Terima kasih,” ucap Eun gi.

“Aku pergi dulu,” Ma roo pamit.

“Aku ingin kita bertemu lagi. Entah kenapa aku ingin tahu lebih banyak tentang dirimu. Aku ingin kita bertemu lagi. Besok dan besoknya lagi,” ucap Eun gi. Ma roo tersenyum.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar